Internasional

Seiring Kehadiran Militer China, Jepang Pertimbangkan Beli 100 Jet Tempur Siluman F-35 AS

Pesawat jet tempur siluman F-35 dari Amerika Serikat (AS) sedang dipertimbangkan Jepang untuk dapat membelinya hingga 100 unit. Rencana pembelian senilai USD8,8 miliar itu sedang dibahas seiring dengan kehadiran militer China yang semakin meningkat di kawasan setempat.

Jepang mempertimbangkan pembelian 100 jet tempur generasi kelima Amerika itu ketika Presiden Donald Trump mendorong Tokyo untuk membeli lebih banyak peralatan militer dan produk senjata AS lainnya.

Dalam laporannya, surat kabar Nikkei menyatakan Jepang sudah memutuskan untuk membeli 42 jet tempur siluman F-35 dari AS dan sekarang mempertimbangkan pembelian sebanyak 100 unit, senilai lebih dari 1 triliun yen (USD8,8 miliar).

Pada pertengahan Desember, Kabinet Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe diharapkan menyetujui rencana itu ketika pedoman program pertahanan negara itu dirilis.

Seiring Kehadiran Militer China, Jepang Pertimbangkan Beli 100 Jet Tempur Siluman F-35 AS
Seiring Kehadiran Militer China, Jepang Pertimbangkan Beli 100 Jet Tempur Siluman F-35 AS

Seorang juru bicara kementerian pertahanan menolak untuk mengonfirmasi laporan itu. “Segala sesuatu yang berhubungan dengan pembelian tambahan (jet tempur F-35) sedang dipertimbangkan,” katanya, yang dilansir Rabu (28/11/2018).

Pada bulan September, PM Abe dilaporkan mengatakan kepada Trump; “Memperkenalkan peralatan militer berspesifikasi tinggi, termasuk peralatan AS, penting untuk memperkuat pertahanan Jepang.”

Sementara Tokyo juga mempertimbangkan untuk meningkatkan kemampuan kapalinduk pengangkut helikopter, Izumo, sehingga dapat mengangkut dan meluncurkan jet tempur.

Sedangkan China sudah mengirim pawat tempur siluman pertama ke dinas militer dalam tonggak terbaru yang menyoroti modernisasi angkatan bersenjata negara tersebut. Kapal induk Izumo sebarat 19.500 ton dan panjang  248 meter dalam mengangkut hingga 14 helikopter.

Ditanya tentang peningkatan kemampuan kapal induk Izumo, Menteri Pertahanan Takeshi Iwaya mengatakan kepada wartawan; “Kami ingin menggunakannya untuk sebanyak mungkin tujuan.”

Adapun langkah ini menunjukkan pergeseran dari kebijakan berorientasi pertahanan Jepang.

Namun demikian, di bawah konstitusi pasifis Jepang, militer negara sudah lama dibatasi untuk membela diri dan membuat negara sangat bergantung pada AS di bawah aliansi keamanan bilateral.