NasionalPolitik

Prabowo Pertanyakan Deklarasi Dan Utang Yang Terus Naik, Apakah Republik Ini Yang Kita Cita-citakan?

Prabowo Pertanyakan Deklarasi Dan Utang Yang Terus Naik, Apakah Republik Ini Yang Kita Cita-citakan?Sugiono,11 April Rakornas Gerindra Bukan Deklarasi Prabowo Subianto Capres

Prabowo Subianto, bakal Capres 2019 bicara soal penolakan deklarasi #2019gantipresiden. Prabowo mempertanyakan adanya penghadangan yang bisa mengganggu demokrasi.

“Sekarang ada emak-emak mau deklarasi diusir dari negaranya sendiri, dia datang ke kota di negaranya diusir. Apakah republik ini yang kita cita-citakan?” kata Prabowo dalam sambutan diskusi buku ‘Paradoks Indonesia’ di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Sabtu (1/9/2018).

Selain bicara soal penolakan deklarasi ganti presiden, Prabowo kembali menyinggung utang pemerintah Indonesia yang naik Rp 1 triliun setiap hari. “Utang pemerintah kita naik terus, sekarang hitungannya naiknya Rp 1 triliun setiap hari,” kata Prabowo.

Prabowo mengatakan banyak yang tidak mengkhawatirkan utang tersebut. Tapi, menurutnya, utang tersebut dapat mengancam kedaulatan negara. “Utang mengancam kedaulatan negara kita,” ujarnya.

Prabowo Pertanyakan Deklarasi Dan Utang Yang Terus Naik, Apakah Republik Ini Yang Kita Cita-citakan?

Selain bicara soal utang, Prabowo juga mengkritik soal ketimpangan ekonomi yang terjadi antara orang kaya dan orang miskin di Indonesia.

Mengutip data Bank Dunia, Prabowo mengatakan, saat ini Indonesia mengalami ketimpangan ekstrem. Bahkan ia memprediksi, jika tidak ada perubahan, Indonesia selamanya bakal menjadi negara miskin.

“Pertumbuhan ekonomi tidak naik, Indonesia terancam negara miskin selamanya. Ya benar ada orang Indonesia yang kaya raya. Di Indonesia 40 orang terkaya kekayaannya 584 ribu kali rata-rata orang Indonesia,” ujarnya.

Prabowo juga menyebut satu persen penduduk Indonesia menguasai setengah kekayaan di negeri ini. Sementara 10 persen penduduk menguasai 75 persen kekayaan Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia sepanjang pemerintah Presiden Joko Widodo tumbuh rata-rata sekitar 5 persen. Pada kuartal II lalu, pertumbuhannya tercatat mencapai 5,27 persen.

Di sisi lain, angka ketimpangan justru mengalami penurunan sebagaimana ditunjukkan dalam indeks rasio gini yang turun dari posisi 0,393 pada Maret 2017 menjadi 0,389.

Dalam kesempatan itu, Prabowo membedah pemikiran yang telah ia tuangkan dalam ‘Paradoks Indonesia’ terbitan tahun 2017.