Internasional

Kota Di Selandia Baru Akan Larang Penduduknya Pelihara Kucing, Mengapa?

Kota Di Selandia Baru Akan Larang Penduduknya Pelihara Kucing, Mengapa?

Kucing adalah binatang peliharaan favorit manusia. Banyak orang yang suka memelihara kucing lantaran tingkahnya yang menggemaskan dan rupanya yang imut. Tetapi, ada satu kota di dunia ini yang akan melarang penduduknya memelihara kucing.

Dikutip dari laman newshub.co.nz, komunitas Southland di Kota Omaui akan dijadikan satu area bebas kucing di Selandia Baru. Southland mengusulkan perubahan yang akan melarang adanya kucing domestik baru.

Manajer operasi biosekuritas atau keamanan lingkungan, Ali Meade mengatakan saat seekor kucing mati, pemiliknya tidak akan diizinkan memiliki kucing baru sebagai pengganti. “Setelah itu, tidak akan ada kucing baru (di kota, red).”

“Begitu kucingmu mati, kamu tidak akan boleh mencari kucing pengganti,” kata Ali kepada RadioLIVE.

Ali Meade mengatakan akan melindungi kehidupan burung lokal, dan aktivitas burung asli kawasan tersebut sudah meningkat. “Jumlah burung meningkat, ada banyak burung tui dan bell,” katanya.

“Komunitas kami ingin menemukan cara untuk menjaga mereka agar populasinya bertambah lebih banyak.”

Kota Di Selandia Baru Akan Larang Penduduknya Pelihara Kucing, Mengapa?
Kota Di Selandia Baru Akan Larang Penduduknya Pelihara Kucing, Mengapa?

Ini adalah komunitas terbaru yang mempertimbangkan kebijakan anti-kucing untuk melindungi lingkungan. Subdivisi Kotuku Park di Pulau Kapiti telah membuat semacam perjanjian tanpa kucing.

Dewan Auckland mengusulkan untuk membasmi kucing-kucing tanpa microchip yang tertangkap di “lokasi yang signifikan secara ekologis.”

Sementara Menteri Konservasi, Eugenie Sage menyarankan penduduk Wellington harus berhenti memelihara kucing untuk memperkenalkan kembali burung Kiwi ke daerah perkotaan.

“Saya pikir secara bertahap kita akan melihat orang-orang menyadari, adanya satwa liar yang berkembang akan berarti menjaga kucing untuk terus berada di dalam (rumah), dan ketika kucingmu mati, maka tidak boleh mencari pengganti.”

Adapun komentar Eugenie memperkuat hasil survei Otago University baru-baru ini. Survei Otago University menemukan, hewan peliharaan domestik seperti kucing menimbulkan halangan tersendiri untuk upaya konservasi dan pemulihan populasi spesies binatang asli.

Sementara itu, mantan pemimpin The Opportunities Party (TOP), Gareth Morgan pernah menyebut kucing sebagai “pembunuh alami” yang perlu dibasmi. Tetapi, keputusan ini memang sulit dibuat.

Eugenie Sage percaya, masyarakat akan kesulitan untuk memilih. “Seringkali orang punya pilihan. Apakah burung dan satwa liar asli, seperti kadal, serangga yang mereka ingin berkembang? Atau kucing mereka?”

Wah, ini benar-benar bisa jadi dilema yang sulit ya?