NasionalopiniPilpres 2019

PESAN WISMOYO ARISMUNANDAR KEPADA PRABOWO: SEBAGAI KOMANDAN, KAMU HARUS DEKAT DENGAN TUHAN!

PESAN WISMOYO ARISMUNANDAR KEPADA PRABOWO: SEBAGAI KOMANDAN, KAMU HARUS DEKAT DENGAN TUHAN!

“There are no bad soldier, only bad commander,” ucap Prabowo dalam diskusi yang ditayangkan lewat Facebook oleh DIGDAYA TV. Lebih kurang artinya, tidak ada prajurit (anak buah) yang salah, yang ada hanyalah komandan (pemimpin) yang tidak baik (dalam memimpin).

“Menjadi pemimpin itu tidak mudah karena harus memberi contoh. Saat di militer saya beruntung karena dipimpin oleh para komandan yang selalu memberi contoh baik,” kenang Prabowo.

“Pada tahun 1978 saya masih Letnan Satu dan ditugaskan menjadi Komandan Kompi Kopassandha (Komando Pasukan Sandhi Yudha). Sebuah kehormatan karena saat itu saya adalah yang termuda menjadi komandan Kompi dan dipercaya memimpin pasukan ke Timor Timur,” lanjutnya.

“Salah satu komandan saya saat itu adalah Pak Wismoyo Arismunandar dengan pangkat Letnan Kolonel. Suatu saat, sehari sebelum berangkat operasi ke Timor Timur, beliau memanggil saya untuk menghadap. Beliau tanya, Prabowo, kau sudah siap berangkat?” Tanya Wismoyo kepada Prabowo.

“Saya jawab bahwa semua sudah siap. Mulai dari pasukan, senjata, logistik, obat-obatan, dan seluruh perlengkapan lain. Tapi masih ada yang kurang dari semua yang saya laporkan. Hingga beliau mengatakan dan mengingatkan,” pesan Wismoyo.

PESAN WISMOYO ARISMUNANDAR KEPADA PRABOWO: SEBAGAI KOMANDAN, KAMU HARUS DEKAT DENGAN TUHAN!

“Kau ini masih muda tapi sudah diberi tanggung jawab memimpin kompi. Ada 100 orang yang kau pimpin untuk pergi berangkat operasi militer. Berangkat operasi militer itu artinya pergi menghadap maut. Ada 100 orang yang nyawanya ada di pundakmu. 100 orang itu juga punya keluarga yang artinya keluarga mereka berharap kepadamu.”

“Kau masih muda tapi sudah diberi beban besar. Sebagai komandan, kau harus rajin sholat dan ibadah. Kau harus dekat dengan Tuhan! Hingga kini pesan tersebut masih saya ingat,” kenang Prabowo.

“Setelah itu saya disuruh datang ke rumah beliau. Saya kira saat itu akan diberi “sangu” untuk tambahan sebelum perang, ternyata saya diberi sajadah agar tetap ingat ibadah dan dekat dengan Tuhan. Itu adalah contoh yang baik dari komandan saya untuk mengingatkan. Karena ketika semua usaha sudah dilakukan, kita tidak boleh lupa untuk menyerahkan sisanya kepada Tuhan. Komandan saya mengingatkan itu kepada saya dengan memberikan contoh,” kenang Prabowo.

Sahabat pembaca, bekerja dan berdoa adalah satu kesatuan jalan menuju keberhasilan. Setuju?