Budaya

Tugu: Monumen dari Batu

Tugu adalah bangunan, biasanya menjulang, besar, atau tinggi yang terbuat dari batu, batu bata, atau bahan tahan rusak lainnya yang berfungsi sebagai tanda suatu tempat, peristiwa sejarah, atau orang yang terkait dengan tempat tugu berada. Dalam melihat fungsinya, maka dikenal sebuah nama fungsi dari tugu,yaitu  tugu peringatan (dibuat untuk memperingati suatu peristiwa bersejarah atau penting), tugu penanda jejak (dibuat sebagai marka tapak untuk membantu perjalanan/navigasi, gapura, yang digunakan sebagai tanda masuknya seseorang pada lingkungan terbatas tertentu), atau tugu patung (atau patung peringatan, untuk mengenang tokoh tertentu.

Kata Tugu dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebuah Monumen, Monumen Peringatan adalah pilar besar dan tinggi, yang dibuat dengan batu di mana monumen adalah peringatan atau kenang-kenangan. Meninjau kata Tugu, dapat disamakan dengan arti “Monumen” dalam bahasa Inggris, menurut kamus The New Oxford Illustrated Dictionary, Tugu adalah segala sesuatu yang telah melalui perlawanan yang sangat lama digunakan untuk mengingat seseorang, aktivitas atau peristiwa. Makna kedua yang disebutkan oleh kamus adalah karya atau karya yang memiliki nilai abadi. Tugu disebut bangunan alam atau lokasi yang dilestarikan karena keindahan atau sejarahnya, yang signifikan. Tugu dalam arti monumen merupakan suatu alat untuk  memperingati seseorang atau peristiwa, yang biasanya dalam bentuk bangunan, menara, tiang, patung dan sebagainya yang didirikan untuk memperingati peristiwa besar dan penting, dalam sejarah atau menghidupkan dan menjaga kenangan dari seseorang yang berjasa dan telah meninggal.

Salah satu contoh adalah Cagar Budaya Tugu Muda. Struktur Cagar Budaya Tugu Muda terletak di dekat Bangunan Cagar Budaya Lawang Sewu dan Museum Mandala Bhakti. Tugu ini terletak di tengah pertemuan antara Jalan Imam Bonjol, Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran, dan Jalan Mgr. Sugiyapranata. Tugu Muda jika dilihat sekilas bentuknya mirip dengan sebuah lilin. Bagian kepala tugu berbentuk seperti api yang sedang menyala.

Tugu Muda berpenampang segi lima. Hal ini melambangkan lima sila. Memiliki tiga bagian dengan bentuk yang berbeda, landasan yang berbentuk penyangga lengkung di bagian bawah yang berisi gambar relief, bagian tengah atau tubuh berbentuk menyerupai bambu runcing, dan bagian atas yang berbentuk nyala api yang melambangkan semangat perjuangan yang tek pernah padam.

Pada tugu ini, bentuk api menggambarkan semangat juang, para pahlawan kemerdekaan Indonesia zama penjajahan, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang tidak akan pernah padam. Bagian tengah tugu berbentuk seperti bambu runcing yang mempunyai arti senjata yang dipakai oleh para pejuang dalam usaha untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bambu runcing ini berbentuk tegak ke atas dan berjumlah lima buah. Bambu runcing yang berjumlah lima buah ini menggambarkan Pertempuran Lima Hari yang terjadi di Semarang pada tanggal 15 hingga 19 Oktober 1945.  Di bawah bagian terdapat hiasan berupa bambu runcing, dan  terdapat lima buah batu yang mempunyai pahatan lambang sila-sila dalam Pancasila, yaitu bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, dan padi dan kapas. Di bagian bawah pahatan bambu Pancasila ini terdapat lima penyangga yang mempunyai berbagai macam hiasan pahatan.