NasionalPolitik

Masyarakat Harus Cerdas Gunakan Medsos

Seiring kemajuan teknologi, media sosial dinilai sebagai bagian dari sejarah manusia yang sulit dihindari dan susah dibendung.

Masyarakat diimbau tak memanfaatkan medsos untuk menyebar isu terkait suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang berpotensi menimbulkan perpecahan di masyarakat.

Bahkan dalam menghadapi tahun politik 2018, sebagian masyarakat mengandalkan media sosial (medsos) sebagai alat kampanye demi memenangkan calon pemimpin idamannya.

Kendati demikian, masyarakat diimbau tak memanfaatkan medsos untuk menyebar isu terkait suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang berpotensi menimbulkan perpecahan di masyarakat.

“Agar media sosial itu bisa digunakan secara arif, tentunya dibutuhkan kecerdasan dari masyarakat pengguna medsos itu sendiri. Sebelum mengetahui secara jelas asal-usulnya, kemudian saat ada informasi maka kita tak serta merta menerima pesan informasi itu

Menurut dia, masyarakat juga mesti memiliki kesadaran transendental, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu yang melampaui pemahaman terhadap pengalaman.

“Kesadaran transendental ini saya pikir sebagai benteng kita agar kita tak gampang membuat berita berita hoax, apalagi yang bertujuan untuk memecah belah. Kalau masyarakatnya terpecah belah, ini akan gawat sekali bangsa kita nantinya

Dia mengaku sering menyampaikan, baik saat khotbah atau pengajian bahwa pergantian kepemimpinan tersebut merupakan sesuatu yang biasa.

Oleh sebab itut, kata dia, tidak perlu itu dianggap terlalu serius dan membuat masyarakat menjadi terpecah belah.

“Sebab ini (pilkada) merupakan acara kegiatan politik yang rutin maka kita tak boleh memperpanjang masalah, terutama terkait perihal yang membuat masyarakat terpecah. Karena kita punya alasan tersendiri dan punya rasionalisasinya, jadi perbedaan pilihan itu

Ia juga mengkhawatirkan penggunaan isu SARA di internet oleh kelompok-kelompok yang mau membuat masyarakat terpecah.

“Ini yang harus kita waspadai. Dalam berbagai peluang, saya juga sering menyampaikan kita tidak perlu menggunakan bahasa agama dalam pilkada nanti. Sebab bahasa agama itu sensitif sekali dan takutnya bisa disalahgunakan oleh kelompok kelompok tertentu atau kelompok radikal untuk memecah belah masyarakat,” tuturnya.

Menurut dia, pemerintah harus lebih tegas terhadap pihak-pihak yang menyebarkan isu SARA, baik di dunia maya dan dunia nyata. “Pemerintah mesti tegas sebab regulasinya telah ada,” ucapnya.