Budaya

“Bahasa Aglutinatif” Bahasa yang direkatkan bersama

Bahasa aglutinatif adalah bahasa yang  “direkatkan bersama”, kebanyakan kata dibentuk dengan menggabungkan morfem. Istilah ini diperkenalkan oleh Wilhelm von Humboldt pada tahun 1836 untuk mengklasifikasikan bahasa dari perspektif morfologis. Contoh bahasa aglutinatif adalah bahasa  Basque, Indonesia, Jepang, dan Korea. Bahasa yang memiliki aglutinatif morpho, adalah bahasa yang menggunakan banyak tambahan. Jenis bahasa ini termasuk dalam tipologi bahasa.

Berbicara tentang tipologi bahasa, dalam tipologi bahasa terdapat 3 tipe, yaitu: Bahasa isolative, Bahasa aglutinatif  dan Bahasa Fleksi. Kesemuanya berada dalam ruag lingkup wacana Morfologi. Pada dasarnya, tipologi adalah ilmu yang mempelajari kesamaan sintaksis dan morfologi bahasa-bahasa tanpa mempertimbangkan sejarah bahasa. Tipologi juga bisa diartikan sebagai pembicaraan dan pembahasan perihal tipe bahasa, yaitu corak khusus suatu bahasa. Tipologi  menggunakan persyaratan struktur bahasa yang meliputi struktur morfologis, struktur morfosintaksis, struktur fraseologis, maupun struktur klausal.

Dalam permasalahan dalam bahasa Indonesia, Bahasa Inggris pun mengalami perubahan morfologia dalam penambahan imbuhan. Dalam tataran morfologi, tambahan sufiks “ed” pada “married” dalam bahasa Inggris disebut past tense menunjukkan kata kerja lampau. Misalnya kata study menjadi studied. Akan tetapi tidak semua past tense dalam bahasa Inggris mengalami imbuhan, misalnya kata think perubahannya bukan menjadi thinked, melainkan menjadi thought.

Dalam berbicara Bahasa Aglutinatif ini, tidak hanya bahasa Indonesia dan Inggris saja. Dalam paragraph di atas, telah dikatakan bahwa bahasa Jepang pun mengalami tipologi morfologi bahasa aglutinatif, melalui afiksasi. Dalam bahasa Jepang, kita ambil contoh perubahan dalam kata kerja, misalnya: 買い物 ‘belanjaan’ Bentuk verba nomina 買い物 dapat diturunkan menjadi verba 買い物する (kaimano), yang berarti ‘berbelanja’. Hal ini sjalan dengan apa yag dikatakan Dressler, yang menulis bukunya pada tahun 1985, yang mengatakan bahwa: “alam hal ini, fenomena morfofonemik berasal dari perpaduan antara fenomena morfologis dan/atau fonologis beserta fonetisnya”

Dari contoh di atas, dapat dibuktikan bahwa bahasa aglutinatif adalah bentuk pergeseran melalui morfosintaksis. Hal ini dapat dilihat dan dibuktikan dalam pembentukan verba derivatif Bahasa Jepang, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, yang mempunyai banyak persamaan karena secara tipologi morfologi kedua-duanya adalah bahasa aglutinatif, yakni proses pembentukan kata diantaranya bisa dengan melalui afiksasi, walaupun ketiga bahasa tersebut tidak serumpun. Ketiga bahasa tersebut, melalui perubahan Bahasa Aglutinatif, sama-sama mengalami perbahan  dari bentuk dasar adjektiva dan nomina. Selain itu, ke tiga bahasa tersebut sama-sama bisa membentuk verba derivatif Intransitif dan Transitif. Verba derivatif Intransitif